Rabu, 18 Oktober 2017

Literature-Novel about UNILAK

Everlasting Love

Pria itu berjalan pelan melewati beberapa gedung yang di dominasi bewarna kuning. Dengan pakaian yang aneh dan cara jalan yang tidak wajar tidak membuatnya malu, lagian orang-orang pun tidak peduli. Keadaan mulai sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang terparkir rapi di parkiran. Hingga ia sampai disebuah pertigaan jalan, menemukannya dengan sebuah danau yang tidak terlalu luas. Mata pria itu menatap sendu pantulan sinar matahari sore di danau tersebut yang menambah kesan sunyi.

Matanya tak berhenti bergerak keseluruh penjuru danau yang dihiasi dengan pohon sawit di pinggirnya. Tidak ada yang istimewa dengan danau ini, hanya danau kampus biasa dan diseberang terlihat salah satu fakultas, hanya saja bagi pria itu danau ini sangat berarti baginya.

"Hanna, apa kau yakin?"
"Iya, Rian. Hanya sebentar saja"

Percakapan tersebut membuat pria tadi buru-buru menyembunyikan dirinya dibalik pohon sawit, tidak berapa lama ia menyesali perbuatannya. Pria itu melihat seorang wanita dan pria tengah menuruni jalan menuju pinggiran danau tersebut. Mata pria itu menatap serius sepasang manusia tersebut tanpa menyadari kehadiran seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan datar. Pria itu masih terus berusaha melihat apa yang dilakukan pasangan tersebut. Ia sedikit kesusahan melihat karena banyaknya pohon sawit yang menghalanginya.

"Ini sudah dua minggu, setelah kejadian itu dia tidak pernah terlihat lagi" ucap wanita itu sedih menatap danau yang sedikit bewarna kecoklatan tersebut. Terlihat air mata menetes di wajah mungilnya, membuat aliran kecil diwajahnya. Pria yang diketahui bernama Rian itu hanya diam, tidak menganggu wanita bernama Hanna tersebut. Rian melihat berbagai penjuru danau, hari sudah mulai gelap dan sunyi.

"Hanna, ayo pulang!" Ucapnya sedikit keras karena Hanna tidak mendengar ucapannya. Hanna berbalik kebelakang dan mengangguk. Rian menggenggam tangan Hanna untuk menaiki jalan. Sesaat Hanna melihat kebelakang, seolah-olah ada yang memperhatikan dirinya namun saat ia melihat sekitar, tidak ada orang.

Pria itu terduduk lemas di balik pohon sawit, kepalanya sangat sakit saat mendengar pria itu mengatakan sebuah nama, yaitu Hanna. Pria itu terus menjambak rambutnya bermaksud untuk mengurangi sakit di kepalanya, namun itu malah membuat kepalanya makin terasa berdenyut. Beberapa adegan terlintas dibenaknya.

"Argh!!!!!" Teriaknya menuntaskan rasa sakit di kepalanya. Hanna lagi-lagi berbalik, ia merasa ada sesuatu yang menariknya untuk kembali kebawah.
"Ada apa Hanna?" Tanya Rian saat melihat Hanna kembali menatap ke danau tersebut. Hanna tertegun, dan beranggapan bahwa tadi hanya sekedar halusinasi nya saja. Mereka berjalan memasuki mobil hitam milik Regan.
"Rian, apa kau ada sendal? Kakiku sakit"
"Tentu saja, sayang"
Rian kembali keluar mobil, memeriksa bagian belakang mobilnya apakah ada sendal atau tidak.
"Hanna! Bisa kau buka pintunya?"
"Baiklah"
Saat pintu belakang sudah terbuka, Rian membuka pintu itu keatas, dan mencari sendal. Beberapa kotak sepatu terlihat disana, ia terus mencari sendal. Namun, bukan sendal yang ia dapatkan melainkan satu sepatu bewarna hitam dengan tiga garis miring disisi kanan dan kiri sepatu tersebut. Rian mengambilnya, sepatu tersebut terlihat sangat kusam dan beberapa noda lumpur menghiasi tapak dan pinggiran sepatu tersebut. Rian menatapnya dengan muak, tak sadar ia meremas sepatu tersebut dan membuat tangannya kotor.

"Sayang, sendalnya ada?!" Teriakan Hana membuat Rian sadar dan buru-buru menyembunyikan sepatu tersebut dan mengambil sepasang sandal jepit, setelah itu ia menutup pintunya dengan keras.
"Ini sayang, sendalnya" Rian memberikan sendal tersebut dan menuju kursi kemudi.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Hanna melepas sepatu tingginya.
"Sendalnya terselip sayang. Ayo pulang" Tanpa basa-basi Rian melajukan mobilnya menjauhi danau tersebut.

Pria di danau masih terduduk dengan lemas, menatap tanah.

"Apa kau akan seperti ini saja?" Tanya seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menatap pria itu.
"Apa ingatanmu sudah pulih?" Tanya wanita itu lagi.
"Sudah" jawab pria itu tanpa bergairah.
"Ini bukan tempatmu lagi, ayo kembali" ajak wanita paruh baya itu berjalan pelan meninggalkan pria itu.

Pria itu menatap sendu, ia berdiri dan mulai berjalan. Ia sesekali melihat kebawah, ya penyebab jalannya tidak wajar adalah karena ia hanya memakai satu sepatu.

"Wanita tua, apakah aku boleh mengucapkan selamat tinggal untuk orang tuaku?" Wanita itu berbalik.
"Mengucapkan selamat tinggal hanya menambah rasa sakit"
"Aku ditenggelamkan di danau ini" jawab pria itu menatap danau itu kembali.
"Manusia akan menyelesaikan masalah itu"
"Kenapa aku belum ditemukan, wanita tua?"
"Bukankah kau bilang kau sudah ingat?"
Pria itu tampak sedikit berpikir, dia ingat bagaimana pria bernama Regan itu mengajaknya ke danau, memukulnya dengan batu besar berkali-kali.
"Badanmu, ditimpa batu yang sangat besar di dasar danau. Kau lihat gundukan batu disana? Dibawahnya ada tubuhmu" Pria itu segera berlari menuju gundukan batu tersebut. Saat ia melihat kedalam air, terlihat sepasang kaki yang sudah kaku ada disana dan pakaian yang dipakai persis sama dengannya sekarang tidak terkecuali satu sepatu yang masih terpasang di kakinya.

"Aku tidak memaksamu. Kalau kau ingin tetap di dunia ini terserahmu, tapi ingat waktumu tidak lama lagi" ujar wanita paruh baya itu

Pria itu tidak peduli, ia terus berusaha mengangkat batu itu walaupun tidak benar-benar tersentuh. Setetes air mata jatuh diwajahnya. Bukan, bukan ia dendam terhadap pemuda bernama Regan itu hanya saja hatinya terlalu sakit melihat wanita yang paling dicintainya selalu menunggunya di tepi danau itu. Pria itu menangis, membuat beberapa yang sepertinya datang melihatnya.

"Bahkan, setelah mati pun hidupmu masih sulit"
"Walaupun kau tahu itu akan percuma, tapi saat kau bersungguh-sungguh itu akan menjadi nyata"

0 komentar:

Posting Komentar

 
Ria Prianti Blogger Template by Ipietoon Blogger Template